Aku menatap dada itu tanpa ragu dengan nikmat.“Eit, kau melihat dadaku terus!” Mbak Marissa refleks menutup dadanya. Film Porno Kan hujan dan gelap?” tanya Mbak Marisa.“Nggak. Kalau melihat terus seperti itu, ntar kepingin lho?” seloroh Mbak Marissa dengan suara lembut menggoda.Dan entah kenapa aku merasa tak terlalu kuat menahan gejolakn mudaku. Kubiarkan pula ia menjadi guru yang baik dan memberikan pengalaman itu. Aku menatap jam dinding. Bias kucium harum tubuhnya.“Saya bisa kasih mbak lilin lagi kalau mau,” jawabku, aku bersiap bangkit dari kursiku.“Nggak usah,” Mbak Marisa menahanku. Mbak Marissa membalasanya. Ia berdiri sangat dekat di hadapanku. Ayahku mengangguk.Fredi kemudian memeluk dan mencium pipi MbakMarissa mesra. Mbak Marissa datang lagi lagi.“Sori, Mir. Kami bisa bergumul di mana saja: di kamar hotel, di hutan pinus yang sepi, di pantai yang sunyi, di sebuah dagau kosong
















