“Mari bapak-ibu, saya antar menuju kamarnya.”Entah kenapa aku malah menurut mengikuti resepsionis itu ke lantai paling atas. Bokep Rusia Cafenya juga sebentar lagi tutup,” jawabku.“Mau kuantar?”“Ga usah. Please!” pintaku sambil menoleh ke arahnya. Saat pinggulnya kembali bergoyang, susuku pun terombang-ambing tak karuan dibuatnya.Aku tak tahan dengan sensasi ini. Denting 3 lonceng kecil berbunyi saat pintu terbuka seolah meresmikan penyerahan diriku. Tak tahan dengan rangsangan yang kuterima, tanganku langsung menekuk hingga tubuhku tinggal bertumpu pada kedua siku. Dan tanganku masih di atas meja, ada dalam genggaman tangannya. Kalau tidak cocok ya untuk apa dipaksakan?“Mau ketemu teman di cafe depan, Dok” jawabku sambil tersenyum.“Teman apa temaann..?” dia bertanya lagi dengan nada bercanda.




















