Malam itu kami pulang sekitar jam 21:10, aku tidak berani kemalaman karena takut ibunya marah. Rumah terlihat sepi, karena ayahnya sedang dinas keluar kota dan adiknya yang masih duduk di bangku smp sedang nginap di rumah neneknya. Bokeb Karena alasan itulah, aku ingin menunjukkan hal yang positif, aku dan Mamat pun membuka sebuah usaha tambal ban kecil-kecilan, setidaknya pekerjaan ini terlihat lebih halal dari pada kami harus terus-terusan menjadi tukang jambret, walaupun sesekali kami masih memalak orang guna menambah sedikit dana untuk keperluan minum-minum.Usaha kami sudah berjalan kurang lebih seminggu dan cukup lumayan, karena selain tambal ban, kami juga menjual oli kendaran. “Tar malam pakai motorku saja, asal jangan lupa isikan bensin…” Mamat menawarkan motor kesayangannya padaku. Hari pun terlewat biasa saja, tidak ada tanda-tanda pelaporan polisi atau semacamnya.




















