Aku terlambat setengah jam.Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat sudah terbayang. Sial. Bokep Indo Mobil bergerak pelan, aku masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yang berkeringat di lehernya itu. Astaga. Yes. Lalu ngomong apa? Angin menerobos kencang hingga seseorang yang membaca tabloid menutupi wajahnya terganggu.“Mas Tut..” hah..? Menantang dengan mata genit sambil mendekati pintu salon.Ia kerja di sana? Suara itu lagi. Begini saja daripada repot-repot. Lho, salon kan tempat umum. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya. Lihatlah, masak ia begitu berani tadi menyentuh kepala Junior saat memijat perut.Ah, kini ia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku.




















