“Terus, Yoga biasanya jam berapa pulangnya, Santi?”, bertanya-tanya berbasa-basi. Aku akhirnya berdiri dari tempat dudukku untuk menyaksikan suasana. Bokeb Punggungnya melengkung indah. “Ketemu di mana?”, tanyanya penasaran. Tanpa berhenti mendekat, telapak tangan kini sudah berada di sisi payudaranya. Rasanya begitu nikmat. Aku tahu dia marah, tapi apa sebabnya..? Eksanti berjalan ke arahku menuju tempat tidur lalu duduk di sampingku. Eksanti diam saja. Sementara aku sedang menuliskan pesan, samar-samar terdengar suara televisi dari dalam kamar Eksanti, di depan kamar Yoga, pertanda ada seseorang di dalam kamarnya. yang juga rumah kost Eksanti untuk menitipkan proposal yang aku janjikan. Aku akhirnya berharap Eksanti bahwa sebenarnya aku hanya ingin berdua saja dengannya, sambil memeluk tubuhnya, itu saja. “Payudaramu masih tetap bagus sekali. Aku merasakan liang kewanitaannya berdenyut menjepit jariku.




















