Setiap melihat Tante Ratih, aku ingat kangkangan paha dan meqi tebal dalam pagutan ketat celana dalamnya.Oh ya mengenai Tante Ratih yang tak punya anak. “Kok tidak kamu habiskan Dit?” tanyanya. Bokeb “Dimana Tante?”, aku mendekat meraba-raba dalam gelap ke arah dia. Begitulah rasanya ketika aku tergesa melepas sarungku dan menyerbu menanggalkan celana dalam Tante Ratih. Berlainan betul dengan adik-adik dan ibumu”, kata Tante Ratih selagi dia menyendok nasi ke piring. Jangan buru-buru seperti tadi.”
“Iya Tante, janji”.Dan kamipun melakukannya lagi. Karena itu perlu juga latihan lari marathon. “Belum Tante, bahkan melihat celana dalam perempuanpun baru sekali.” Wah berani sekali aku. Dan sebentar kemudian Tante kembali membawa gelas berisi air putih.Dan kami duduk bersisian di pinggir ranjang.




















