Aku memandang ke arah lainmengindari adu tatap. Bokep Dadaku tibatiba berdegupdegup.Bang, Bang kiri Bang..!Semua penumpang menoleh ke arahku. Apa katanya nanti? Eh bisa juga wanita setengah baya ini ramahkepadaku.Lalu ia membersihkan pahaku sebelah kiri, ke pangkalpaha. Ah. Dan kubuka celana pantai. Aku langsungmemasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomornomornya. Akuterpejam menahan air mani yang sudah di ujung.Bergantian Wien kini telentang.Pijit saya Mas..! Angin menerobos dari jendela.Masih ada waktu bebas dua jam. Payudaraitu dari jarak yang cukup dekat jelas membayang.Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Kali ini dengan telapaktangan. katanya lagi seperti iri padaWien.Aku mengambil pakaianku. Aku duduk di tepi dipan. Ya, seseorang toh dapat saja lupa padasesuatu, juga pada sapu tangan. ujarnya.Aku makin bersemangat, makin membara, makinterbakar. Pletak, pletok,sepatunya berbunyi memecah sunyi. Baru saja aku memasang ikatpinggang, Wien menghampiriku sambil berkata,Telepon aku ya..!Ia menyerahkan




















