Perjalananpun dilanjutkan kesebuah plaza dengan mesra Roni memberanikan dirimemegang jari tangan Tutik yang lembut dan halus.Sentuhan itu membuat hati Tutik berdebar-debar seperti baru terkena strum listrik. Bokeb Tangannya yang mulus, lembutnya belain penuh dengan rasa sayang. Akhirnya aku kabulkan ajakan Tutik karena penuh dengan harapan akan mendapat cerita dari Tutik.Akhirnya kami bergegas mau pergi, pemilik café langsung menegur “abang mau pulang ? lain orang lain tingkah lakunya beratus teori yang di buat cowok-cowok keren yang mendekatinya, yang namanya cinta belum juga ada di benaknya. Sesampainya dalam café penulis menanyakan “Tutik minum apa ? Tangannya yang mulus, lembutnya belain penuh dengan rasa sayang.




















