Wajahku mulai panas. Kulihat di bawahku ada kain, ya seperti saputangan.“Itu kali Mbak,” kataku datar dan tanpa tekanan.Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika ia membersihkan paha bagian bawah. Bokep Montok Hap.“Mau pijit lagi..?” ujar suara wanita muda yang kemarin menuntunku menuju ruang pijat.“Ya.”Lalu aku menuju ruang yang kemarin. Tidak lama wanita itu mengetuk langit-langit mobil. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Sesekali tangannya nakal menelusup ke bagian tepi celana dalam. Sopir menepikan kendaraan persis di depan sebuah salon. Ia hanya menampakkan diri separuh badan.“Mbak Wien.., aku mau makan dulu. “Ngapaian sih di situ..?” katanya lagi seperti iri pada Wien.Aku mengambil pakaianku.




















