Erina menatapku dan menggelengkan kepala, tapi kemudian dia menarik nafas dan kelihatan agak sedikit mereda emosinya.“Sudah satu tahun kami mencoba untuk mendapatkan seorang bayi, tapi belum juga beruntung. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Bokeb Vita dan aku ikut tertawa, tapi dengan cepat tawa kami berhenti.“Erina, beri Bob kesempatan,” kata Vita dengan lebih serius. Hentikan,” cegahku. Kupegang kedua bahunya dengan tanganku untuk meredakannya.“Bukankah Bob sedang diluar kota sekarang ini?”“Ya,” jawabnya, tapi segera menambahkan dengan nada marah sebelum aku mampu melanjutkan,“Mungkin sekarang ini dia sedang meniduri wanit lain lagi!”“Aku rasa tidak,” jawabku sambil menggelengkan kepala.“Apa?”“Dengar, aku cukup mengenal Bob dengan baik dan dia bukan tipe lelaki yang suka main perempuan,” kataku, meskipun sadar betapa menggelikannya penjelasanku ini.“Kamu pasti bercanda,” tukas Erina.




















