Aku bisa memastikan, Eksanti agak malu. “Bagaimanapun juga khusus untuk yang satu ini, Santi tidak dapat memberikan buat Mas lagi. Bokeb Suasana lesehan di rumah makan itu, yang ruangannya disekat menjadi beberapa tempat dengan pembatas dinding bilik yang tinggi, membuat saya bisa bertindak dengan leluasa kepada Eksanti. Sekali-sekali aku menggigit lembut putingnya, lalu aku hisap kuat-kuat sehingga membuat Eksanti menarik, menjambak rambutku. “Mas ini mau nyari Mas Yoga atau..”, kata-katanya terputus tapi aku menerjemahkan terjemahan kalimatnya dari senyuman di bisa. Hingga akhirnya.. Tangan kanan Eksanti berhenti pada permukaan kancing celananya. Aku memandang nakal ke arah payudaranya sambil tersenyum. Eksanti membalasku dengan memanfaatkan di pundakku.




















