Mbak Marissa mendesah makin keras dalam tingkahan suara hujan.Aku makin membara dan membara. Aku meraba-raba sekeliling dan mencari lilin. Bokep Cina Eh, ayah dan ibumu lama ya perginya?” Tanya Mbak Marisa.“Sampai minggu depan!” jawabku.“Kesepian, dong?” celetuk Mbak Marissa.“Iya, gitu deh!” kataku, masih sedikit gugup.“Mbak gimana?”“Biasa aja. Pintu terobosan itu terbuka lagi. Sekarang, hal yang paling asyik adalah adalah masuk kamar tidur dan membayangkan Mbak Marissa berada di sisiku.Aku duduk di kursi dan menuang air minum. Mbak Marissa datang lagi lagi.“Sori, Mir. Tadi padi mereka terbang ke Banjarmasin untuk menengok kakakku yang melahirkan. Kan hujan dan gelap?” tanya Mbak Marisa.“Nggak. Hujan masih turun. Aroma farfumnya tertinggal di ruanganku.“Ya, mbak, selamat malam!” kataku.Jauh dalam hati aku sih pingin bilang,“Please dong temenin saya sebentar! Rambutnya lurus panjang. Mbak Marisa mengerling dengan senyum semanis brownies itu, dan




















