“Sempurna” katanya dingin. Tersenyum Erik mengecup kepalaku sambil mengelusnya. Vidio Bokep Aku pun mengikuti permainannya, sedikit takut, sedikit ingin tahu. Dan itu sudah lebih dari cukup bagiku. Di sana, banyak anak-anak yang sebaya denganku. Kenapa katamu?! Kenapa katamu?! Tapi, dia juga bersikap disiplin. Aku tidak mau bergerak juga, seolah-olah aku sengaja ingin ditemukan oleh Erik. Aku tidak percaya bahwa aku menyaksikan itu semua. Aku mulai sedikit meronta sambil berteriak. Saat itu, aku benar-benar sendirian. Saat dia melewati barisan anak-anak yang lain, dia tiba-tiba berhenti tepat di depanku. Dan aku bisa tahu apa yang terjadi di dalam sana. Aku pun hanya bisa tertawa, aku pun menetujuinya. Selama ini aku hanya mengenal ayah dan ibu saja. Aku nggak marah kok. Yang paling menyedihkan adalah, aku sama sekali tidak pernah dikenalkan ataupun berjumpa dengan kerabat ayah




















